Siapa Aku?

Hai, namaku Feby. Aku lahir di Nanga Pinoh - Kalimantan Barat 22 tahun yang lalu. Aku menghabiskan masa kecilku selama 6 tahun di Kal-Bar. Saat naik kelas 2 SD orang tuaku pindah ke Jakarta karena suatu insiden, akhirnya aku menghabiskan sisa masa kecilku hingga saat ini di ibukota. Orang tuaku berasal dari ranah Minang (Sum-Bar), orang tuaku merantau sejak masih muda dulu. Aku adalah anak tunggal, ya aku tidak punya saudara kandung. Mungkin banyak orang berpikir aku kesepian karena tidak punya saudara kandung untuk diajak bermain bersama. Tapi hal itu memang aku rasakan saat aku menetap di Nanga Pinoh dulu. Aku tidak punya teman bermain, temanku ada tapi itu cuma teman sebatas di sekolah saja. 

Hidupku benar-benar berubah saat aku pindah ke ibukota. Keluargaku bukan keluarga yang kaya, tapi sewaktu aku tinggal di Nanga Pinoh dulu hidupku berkecukupan. Ayahku punya toko dan berdagang pakaian, sedangkan mamaku membuka usaha RM Minang di Nanga Pinoh. Setelah pindah ke ibukota, orang tuaku harus memulai dari awal lagi. Ternyata apa yang orang bilang tentang kerasnya ibukota itu benar adanya. Saat itu aku masih kecil dan tidak tahu beban hidup orang tuaku. Di Jakarta kami tidak punya rumah, orang tuaku hanya bisa mengontrak, karena uang sisa usaha di Nanga Pinoh dulu sudah habis untuk biaya kami pindah ke ibukota. 

Setelah aku pindah dan bersekolah di Jakarta, akupun merasakan kerasnya persaingan di Jakarta. Bukan persaingan material saja, tapi persaingan akademikpun aku rasakan. Aku bukan anak yang bodoh dalam pelajaran di sekolah, tapi aku juga tidak pintar seperti anak-anak lainnya yang rajin belajar. Tapi, mamaku selalu menuntut aku untuk jadi orang yang berilmu dan aku harus mendapat ranking di kelas. Awal mula aku duduk di bangku SD di Jakarta, aku tidak sulit untuk mengikuti pelajaran yang diberikan guruku meskipun aku adalah anak baru atau siswa pindahan. Semester berikutnya aku mulai menunjukkan kemampuanku di kelas dengan menjadi juara kelas. Tapi ada hal lain yang tidak aku sadari, ada seorang teman sekelasku yang sering mendapat ranking iri terhadapku karena aku merebut posisinya di kelas. Orang tuanya sangat dekat dengan wali kelasku. Siapa sangka, kedekatan orang tua temanku itu dengan wali kelasku ada maksudnya. Kalian pasti tau kan istilah menyogok di sekolah? Aku rasa banyak di antara kalian pernah mendengar itu. Benar saja, ternyata orang temanku yang iri itu menyogok wali kelasku agar menaikkan nilai anaknya dan merebut kembali posisi juara kelas. Yang paling aku ingat sampai sekarang adalah betapa jahatnya wali kelasku menyalahkan semua jawaban soal ulanganku. Sampai di rumah, mamakupun memeriksa hasil ulanganku, sontak mamaku kaget melihat hasilnya dan kemudian memeriksa soal ulanganku dan ternyata jawabanku betul semua, karena selama ini mamaku tahu kalau aku bukan anak yang bodoh, walaupun sebenarnya aku tidak pintar. Mamakupun tidak terima dan menanyakan masalah ini dengan wali kelasku. Apa yang dikatakan wali kelasku? "Mama Feby, maaf yaa saya buru-buru kemarin periksa hasil ulangannya, saya ganti deh nilainya". Masalah tidak sampai di situ saja, setelah kejadian itu berlalu, kejadian berikutnya terjadi. Wali kelasku menyembunyikan buku catatan matematikaku di laci mejanya. Selama ini aku bersusah payah mencari buku itu dan ternyata aku menemukan bukuku di laci meja wali kelasku. Aku pikir memang wali kelasku belum mengembalikan buku catatan teman-temanku yang lainnya, ternyata di dalam laci tersebut cuma ada bukuku saja. Yang lebih menyakitkan lagi ketika aku mendapati bahwa wali kelasku memberikan bukuku tersebut ke temanku yang iri terhadapku itu. Tapi Allah sayang denganku, masalah yang selama ini kudapatkan Allah ganti dengan keajaiban yang lain. Akhirnya kedok yang selama ini wali kelasku dan orang tua temanku simpan terbongkar di muka umum. Temanku itu jadi bahan perbincangan guru-guru dan wali murid lainnya. Karena sangat malu akhirnya temanku itu pindah sekolah.

Hal yang paling aku syukuri saat SD sampai sekarang adalah seorang sahabat yang Allah kasih untukku. Awalnya aku dan dia bukan sahabat, cuma sebagai teman sekelas dan bukan teman sebangkuku juga. Aku dulu sering bertengkar dengannya. kami sama sekali tidak dekat, bahkan mungkin kami dulu adalah musuh. Sahabatku ini dulunya tidak suka denganku, dia selalu menghasut teman-temanku yang lain agar tidak bermain denganku. Yang lucunya karena orang tua kami dekat dan kami les di tempat yang sama, kamipun akhirnya berteman dan dekat. Percaya atau tidak, persahabatan kami masih awet hingga kini. Kami tumbuh bersama dan kami tinggal di lingkungan yang tidak jauh satu sama lain. 

Ini sahabatku dari aku SD. Sudah 15 tahun kami bersahabat.

Lulus SD kami melanjutkan ke SMP yang sama, tapi kami tidak sekelas sampai kelas VIII SMP. Kami baru sekelas saat kelas IX SMP. Tapi kamipun tidak duduk sebangku. Aku duduk dengan teman sebangkuku saat kelas VIII. Di kelas IX inilah kami memulai persahabatan kami bertiga. Lulus SMP ternyata nasib berkata lain, aku dan kedua temanku tidak masuk SMA yang sama. Kami menempuh SMA yang berbeda satu sama lain, tapi persahabatan kami tetap terjalin sampai saat ini walaupun sahabatku yang bersahabat denganku dari SMP sudah menikah dan memiliki anak. Mungkin tidak sedekat dulu, tapi komunikasi kami masih baik. Tetap saja sahabatku yang sampai saat ini masih tetap dekat denganku adalah sahabatku dari SMP.

Mulai menduduki bangku SMA, kehidupanku yang pahit mulai terjadi. Kehidupanku di Jakarta bukan kehidupan yang mencukupi. Selama ini ayahku cuma berdagang bolak-balik Jakarta-Bogor. Ayahku mengambil pesanan barang pelanggan dan kemudian dijual ke Bogor. Ayahkupun bukan berdagang menetap di toko, tapi ayahku memikul barang dagangannya di atas bahunya dari Jakarta ke Bogor dengan transportasi kereta api ekonomi Jabodetabek yang kini berganti jadi Commuter Line. Sekitar jam 6 pagi ayahku mulai berangkat membawa barang dagangannya, kadang selalu berangkat bersamaku karena kami sama-sama naik angkot, ayahku turun di stasiun dan aku berhenti di dekat stasiun karena sekolahku berada dekat stasiun dimana ayahku naik kereta. Mamaku sejak pindah ke Jakarta hanyalah seorang ibu rumah tangga. Sesekali mamaku membuat keripik singkong balado dan diijual ke tukang sate untuk membantu menambah uang jajanku. Ayahku adalah seseorang yang amat gigih dan tidak pernah mengeluh, walaupun setiap hari ia selalu memikul barang dagangannya dari Jakarta ke Bogor, kadangpun tidak laku semua, terpaksa ayahku bawa lagi barang dagangannya ke rumah saat sore. 


Bersambung.....

Komentar